PULAU OBI,HR – Aroma khas aneka takjil dan riuhnya interaksi warga seketika mengubah wajah area komersial permukiman baru Desa Kawasi setiap menjelang waktu berbuka puasa. Bukan sekadar pasar sore biasa, kemeriahan yang digagas oleh Harita Nickel lewat inisiatif “Sapa Ramadan” ini telah menjelma menjadi denyut nadi ekonomi baru yang menghidupkan puluhan UMKM lokal.
Setiap sore, ratusan warga dan karyawan Harita Nickel tumpah ruah memadati deretan stan yang menyediakan takjil dan sembako. Daya tarik utama pada Minggu (22/2) sore itu adalah program diskon 50 persen untuk seluruh item. Antusiasme pengunjung yang tinggi menjadi katalisator bagi perputaran uang yang signifikan.
Hardiana dan Abdul Khamis Muis, karyawan yang turut berbelanja, mengakui bahwa kehadiran bazar ini tidak hanya memudahkan akses kebutuhan pokok murah, tetapi juga menjadi pengobat rindu pada kuliner kampung halaman.
“Hampir setiap sore, saya dan teman-teman berburu takjil di sini. Sekarang sudah jadi kebiasaan. Jajanannya enak-enak, dan buat kami ini sekaligus mengobati kerinduan akan kampung halaman,” tutur Ismail, panggilan akrab Abdul Khamis Muis.
Menariknya, kemeriahan dan manfaat Sapa Ramadan menembus sekat keyakinan. Warga non-Muslim seperti Yunince turut larut dalam keramaian, menjadikan bazar ini sebagai ruang interaksi sosial yang inklusif sekaligus momen berburu kuliner khas yang jarang ditemui di luar bulan suci.
Stimulus Ekonomi bagi Pedagang Lokal
Bagi para pelaku UMKM, lonjakan pengunjung ini berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan. Tina Nomor, pedagang lauk-pauk dan ketupat, mencatat omzet rata-rata Rp1 juta per hari sejak bazar dibuka.
Hal senada dirasakan kakak-beradik, Mila dan Tika, penjual aneka jajanan takjil. Program subsidi diskon dari perusahaan terbukti mempercepat ludesnya barang dagangan mereka, memberikan pemasukan lebih dari Rp1,5 juta dalam sehari untuk keduanya.
“Baru satu jam buka sudah mau habis. Subsidi ini sangat membantu menambah penghasilan kami. Harapannya bisa ramai terus sampai akhir Ramadan,” ujar Mila.
Sapa Ramadan membuktikan bahwa area komersial Kawasi, pasar rakyat yang lebih tertata dan terintegrasi yang kini telah dihuni ratusan pedagang lokal sejak tahun lalu, memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi baru.
Community Development Harita Nickel, Suryo Aji, memaparkan bahwa bazar Sapa Ramadan ini melibatkan 35 pedagang takjil dan 10 pedagang sembako lokal. Pada hari biasa, perputaran uang berkisar Rp18 juta hingga Rp20 juta per hari. Angka ini melonjak tajam menyentuh Rp50 juta saat program diskon 50 persen diberlakukan.
“Diskon separuh harga ini kami gelar dua kali selama Sapa Ramadan melalui mekanisme subsidi. Pedagang tetap menerima bayaran penuh sesuai harga normal untuk akumulasi penjualan Rp500 ribu pertama mereka. Ini adalah cara kami menebar kebahagiaan sekaligus memberikan stimulus ekonomi langsung kepada mitra UMKM lokal,” urai Suryo Aji.
Pemberdayaan Berkelanjutan
Komitmen pemberdayaan Harita Nickel tidak berhenti di Kawasi. Sebelumnya, perusahaan juga sukses menggelar bazar sembako murah dengan menggandeng majelis taklim dan ibu-ibu PKK di Desa Soligi. Menariknya, seluruh hasil penjualan sembako tersebut tidak ditarik kembali oleh perusahaan, melainkan dihibahkan sepenuhnya sebagai modal usaha bagi mitra lokal setempat.
Hingga akhir Ramadan, Harita Nickel terus menggulirkan berbagai kegiatan di desa-desa lingkar operasional, termasuk pemberian santunan bagi anak yatim dan lansia. Seluruh inisiatif ini merupakan wujud nyata dari komitmen Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Harita Nickel, memastikan kehadiran perusahaan senantiasa membawa nilai tambah dan kemandirian bagi masyarakat sekitar.[red]






















