Jakarta,HR— Revolusi digital menuntut peran aktif mahasiswa sebagai agen perubahan, bukan sekadar pengguna teknologi. Hal tersebut ditegaskan Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak. dalam kegiatan bertajuk “Mahasiswa dan Revolusi Digital: Menjawab Tantangan, Meraih Peluang” yang diselenggarakan oleh Yayasan Rembuk Indonesia Raya bekerja sama dengan PKBM Ristek Nusantara Jaya, Sabtu (17/1).
Dalam pemaparannya, Dr. Aras menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga tata kelola sosial. Namun, perubahan tersebut akan kehilangan makna jika tidak diiringi kesiapan intelektual dan moral mahasiswa.
“Mahasiswa hari ini harus memilih: menjadi penggerak revolusi digital atau sekadar penonton yang tertinggal oleh zaman,” tegasnya di hadapan peserta.
Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda bukan pada keterbatasan akses teknologi, melainkan pada kemampuan memahami dan mengelola informasi secara kritis. Ia mengingatkan bahwa derasnya arus digital justru berpotensi melemahkan daya pikir apabila tidak disikapi dengan kesadaran akademik.
“Revolusi digital tidak otomatis mencerdaskan. Tanpa nalar kritis, teknologi justru bisa melumpuhkan daya pikir mahasiswa,” ujar Dr. Aras.
Ia menambahkan, mahasiswa harus mampu memposisikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat kapasitas intelektual dan kebermanfaatan sosial. Dalam konteks ini, integritas dan etika menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.
“Teknologi itu netral, tetapi mahasiswa tidak boleh netral terhadap nilai. Jika kecanggihan digital tidak dibarengi karakter, maka kita hanya sedang mempercepat kesalahan dengan cara yang modern,” katanya.
Lebih jauh, Dr. Aras mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti sebagai konsumen platform digital, melainkan menjadi pencipta nilai dan inovasi. Ia menilai era digital membuka peluang luas bagi mahasiswa dalam bidang riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Mahasiswa tidak cukup menjadi pengguna teknologi; mereka harus menjadi pencipta nilai di dalamnya. Di situlah letak peluang masa depan,” tambahnya.
Acara yang dimoderatori Fahrul Bagenda tersebut berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas isu kecerdasan buatan, ekonomi digital, serta kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja. Kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat kepada narasumber dan sesi foto bersama.
Melalui kegiatan ini, Dr. Aras berharap mahasiswa mampu membaca perubahan zaman secara kritis dan bermartabat.
“Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa siap mahasiswa memaknai dan mengarahkannya,” pungkasnya.(red)























