LABUHA,HR—Laut Halmahera Selatan kembali menjadi saksi penantian panjang. Memasuki hari ketiga pencarian, Universitas Khairun (Unkhair) terus mengerahkan upaya menemukan Dr. Wildan, S.S., M.Hum, dosen Unkhair yang hilang akibat kecelakaan kapal di perairan tersebut. Di tengah ombak dan angin yang tak menentu, harapan agar korban segera ditemukan tetap dijaga.
Di titik awal kejadian, pada kedalaman yang diperkirakan mencapai 80 meter, tim Unkhair menurunkan drone bawah air dan menerbangkan drone udara DJI Mavic.
Perangkat teknologi itu menjadi perpanjangan mata manusia, mencoba menembus ruang laut yang gelap dan berisiko, tempat kemungkinan terakhir keberadaan korban berada.
Ketua Tim Unkhair, Dr. M. Ridha Ajam, M.Hum, menjelaskan bahwa drone bawah air digunakan untuk membaca kondisi dasar laut yang tak memungkinkan dijangkau penyelaman manual.
Namun alam kembali menentukan batasnya. Gelombang tinggi dan cuaca yang memburuk memaksa pencarian di bawah permukaan laut dihentikan sementara.
“Kedalamannya cukup ekstrem dan berisiko jika dilakukan penyelaman langsung. Karena gelombang yang tinggi, operasi kami hentikan sementara dan akan dilanjutkan esok hari,” tutur Dr. Ridha di sela-sela operasi.
Drone bawah air dirancang untuk menyelam dan merekam kondisi dasar laut secara kendali jarak jauh.
Sementara dari udara, DJI Mavic menyisir permukaan laut dan garis pantai, memperluas pandangan ke wilayah yang tak terjangkau dari dek kapal.
Sejumlah armada laut dikerahkan, menyusuri perairan dari satu sektor ke sektor lain. Kapal pengawas KPLP membawa mantan Rektor Unkhair Dr. M. Ridha Ajam, M. Hum, Wakil Rektor III Abdul Kadir Kamaluddin, SP., M. Si, serta Muhammad Fauzi Andi Mattra, anak ketiga Dr. Wildan. Bersama, mereka menyusuri perairan Saketa dan sekitarnya, mengarungi laut dengan harap dan cemas yang sama.
Di sisi lain, rubber boat Basarnas Halsel dengan lima personel Basarnas dan Polairud menyisir perairan Desa Sayoang.
Sementara bodi masyarakat yang membawa tim Unkhair, aparat kepolisian, dan warga bergerak ke selatan, menjangkau perairan Tutupa, Tabapoma, hingga Tomara. Tim ini dipimpin Abdul Khalid, S.E Kabag BPKU Unkhair.
Dari titik awal kejadian, Zulfikar Galitan mengendalikan DJI Mavic, menerbangkannya perlahan, seolah membaca tanda-tanda yang mungkin tertinggal di permukaan laut.
Pencarian juga melibatkan rubber boat BNPB Halsel yang diawaki unsur TNI AL, TNI AD, dan Brimob, Polres Halmahera Selatan di perairan Tabapoma.
Sementara rubber boat Marnit Polairud Bacan membawa tiga personel Polairud bersama Yadzali Andi Mattara, anak kedua korban, menyisir perairan Desa Lemo-Lemo, Kecamatan Gane Barat.
Di perairan Tomara, bodi masyarakat yang dipimpin Babinsa Desa Bibinoi Sertu Yunias Loleo, bersama lima personel Basarnas, turut melakukan pencarian.
Di sana, laut, manusia, dan doa bertemu dalam satu tujuan yang sama.
Komandan Unit Basarnas Halsel, Husen Abubakar, mengatakan pada hari ketiga pencarian, lima alat utama dikerahkan, mulai dari long boat masyarakat, spit boat Polairud, dua perahu karet Basarnas dan Polairud, hingga kapal bantuan KPLP.
Namun sore hari, angin kembali menguat. Sekitar pukul 15.30 WIT, cuaca tak lagi bersahabat, memaksa seluruh tim menghentikan pencarian. Hingga operasi sementara ditutup pada pukul 17.00 WIT, hasil pencarian masih belum menemukan titik terang.
Hari berikutnya, kata Husen, pencarian akan kembali dilanjutkan dengan penyisiran permukaan laut sesuai prosedur, menyesuaikan arah arus dan kondisi cuaca. Imbauan juga kembali disampaikan kepada masyarakat dan kapal-kapal yang melintas agar segera melapor bila menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Sore itu, pencarian ditutup sementara. Laut masih menyimpan rahasianya. Di atas gelombang yang perlahan mereda, harapan tetap dijaga bahwa esok hari akan membawa kabar, apa pun bentuknya, bagi mereka yang menunggu di darat.*























