Unhena Sukses Selenggarakan Talkshow Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

  • Whatsapp

TOBELO, HR — Universitas Hein Namotemo (Unhena) bersama stakeholder, Jumat (28/11/2025), sukses menyelenggarakan talkshow bertema Cegah Kekerasan, Tingkatkan Empati Jadilah Pelindung.” yang bertujuan untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten Halmahera Utara.
Acara ini berlangsung di Aula Vak 1 Unhena dan dihadiri lebih dari 200 mahasiswa dari berbagai program studi. Talkshow ini digelar sebagai bentuk respons terhadap masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Talkshow dibuka secara resmi oleh Wakil bupati Halmahera Utara, Dr. Kasman Hi Ahmad, S.Pd. M.Pd. Dalam talkshow ini, narasumber kompeten dihadirkan untuk menyampaikan materi dari berbagai perspektif di antaranya : Wakil bupati Dr Kasman Hi Ahmad, S.Pd. M.Pd. Kepala Kementrian Sosial RI, Osep Mulyani, AKS. MM, Wakapolres Halmahera Utara, Kompol, Saiful Egal, S. AP, Kepala BNN Halmahera Utara, Ir Fadly Irwandi Sadik, MM, DP3AKB Halmahera Utara, Nortje Garjalay, S. Sos. M.Si, dipandu oleh Gunawan Hi Abas, S. IP, SH, MH sebagai moderator.

Rektor Universitas Hein Namotemo, Dr. Hendriane Namotomo, S.S,. MM, menyampaikan bahwa kegiatan ini diinisiasi oleh beberapa stakeholder termasuk dari Yayasan Hohidiai, Dinas Pemberdayaan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana kabupaten Halmahera Utara,
“Sementara Unhena sebagai tuan rumah dari salah satu kegiatan yang merupakan rangkaian kegiatan hari anti kekerasan, ” jelas Hendriane Namotomo, Jumat (28/11/2025).

Menurutnya, Talkshow ini menghadirkan narasumber berkompeten dalam rangka mencapai langkah kongkrit upaya-upaya preventif tehadap kekerasan kepada perempuan dan anak,
” Nah salah satu upaya preventif itu adalah edukasi terutama di lembaga pendidikan seperti Universitas,” katanya.

Hendriane bilang bagi Universitas Hein Namotemo ini merupakan langka strategis karena pihaknya memiliki beberapa program studi yang akan mencetak calon guru,
” Jadi mereka bisa di edukasi dan dibekali dengan pemahaman yang tepat dan langkah-langkah pencegahan baik, terutama mereka sendiri yang mejadi agen perubahan sosial, ” ujarnya.
” Dan terutama mereka bukan pelaku kekerasan baik dalam bentuk kekerasan fisik, psikis, verbal kemudian berbasis gender dan digital,” sambungnya.

Hendriane menyebutkan kegiatan seperti ini merupakan pertama kali isu seperti ini di gagas bersama pemangku kepentingan, aftinya ada Pemerintah Daerah, perguruan tinggi dan organisasi masyarakat seperti Yayasan Hohidiai dan HPPI,
” Kami berharap ini awal dari sebuah gerakan yang akan menyadarkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan sehingga bisa optimal meningkatkan potensi mereka,” ujarnya.

Hendriane pun mengungkapkan tingkat pencegahan yang paling utama adalah dari keluarga, karena keluarga seharusnya menjadi rumah yang paling aman bagi anak-anak,

Antusiasme peserta terlihat jelas dalam sesi diskusi yang interaktif dan hangat. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pandangan, dan berdiskusi tentang tantangan pelaporan, dinamika kasus kekerasan, serta strategi menciptakan lingkungan masyarakat yang inklusif dan aman bagi semua.

Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber. Sesi foto bersama menjadi penanda akhir kegiatan sekaligus simbol komitmen bersama untuk terus menggaungkan pentingnya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *