Ketua DPD GMNI Malut : Konflik Iran – Amerika, Israel Jangan Terjebak Narasi Perang Agama

  • Whatsapp

TOBELO, HR — Perang terbuka antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026 bukanlah konflik agama melainkan konflik geopolitik dan perebutan pengaruh regional di Timur Tengah.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPD GMNI Maluku Utara, Alfonsius Gisisi dalam menyikapi isu yang tidak bertanggungjawab dengan narasi yang menyederhanakan bahwa persoalan ini disebut sebagai perang antara Islam dan Barat atau perang agama.

Menurut Alfonsius, Konflik Iran-Amerika Serikat, Israel adalah pertarungan kepentingan strategis sehingga tidak perlu untuk terprofokasi. Sebab secara singkat, perang antara Iran-Amerika Serikat, Israel adalah pertarungan untuk pengaruh di Timur Tengah, di mana Amerika Serikat berusaha membatasi kekuatan Iran melalui tekanan ekonomi dan militer, sementara Iran berupaya mempertahankan kedaulatan dan doktrin keamanannya.
” Oleh sebab itu, kita harus tetap jaga kerukunan umat beragama, saling menghargai satu sama yang lain, biar daerah yang kita cintai ini selalu dengan kedamaian.”kata Alfonsius Gisis, Selasa (10/03/2026).

Alfonsius mengatakan dari hasil pantauannya di dinding media sosial seperti facebook, ditemukan ada oknum atau pihak-pihak yang tidak bertangung jawab mencoba menggiring opini seolah-olah konflik Iran- Amerika Serikat dan Israel adalah masalah agama,
” Karena itu, saya menghimbau dan mengingatkan kepada masyarakat Maluku Utara agar jangan kita diadu domba oleh oknun-oknum yang tidak bertangung jawab. Mari kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta saling menghargai satu sama yang lain.” pintanya.

Alfonsius menegaskan bahwa GMNI tetap konsisten dan bersikap anti terhadap politisasi isu agama dan politik identitas yang memecah belah bangsa.
“Sebagai organisasi yang berideologi Nasionalisme dan Marhaenisme, GMNI berkomitmen mempertahankan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sikap ini sejalan dengan moto GMNI ” Pejuang-Pemikir ” yang selalu mengutamakan persatuan nasional dan membela kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan.” tandasnya.

Alfonsius juga menambahkan salah satu latar belakang kehadiran GMNI di Maluku Utara adalah didorong oleh kebutuhan untuk menjadi benteng perjuangan rakyat kecil (Marhaen) dan pengawal ideologi nasionalisme di wilayah kepulauan yang kaya sejarah rempah-rempah (*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *