MOROTAI-Hari masih pagi, pada Kamis (8/10/2026), tetapi enam perempuan sudah sibuk di pesisir Desa Waringin. Ada yang menyapu daun-daun kering. Ada yang mencampur media tanam. Ada yang menyortir bibit-bibit bakau yang kemarin mereka kumpulkan dari sekitar pesisir desa. Mereka adalah bagian dari sekitar 25 perempuan yang sedang memulihkan garis pantai di tiga desa di Pulau Morotai. Target mereka adalah menanam 5.000 mangrove hingga Desember 2026.
Kegiatan ini bernama PERISAI, singkatan dari Perempuan Inspiratif untuk Aksi Iklim. Program ini dimulai pada Juli 2026 di Desa Koloray, Galo-Galo, dan Waringin. Indonesia Locally Managed Marine Area (ILMMA) menginisiasinya, bersama mitra pelaksana Lembaga Bantuan Hukum Perempuan dan Anak (LBH PA) Morotai. Sebagian besar perempuan yang terlibat dalam PERISAI ini adalah ibu rumah tangga. Mereka mengurus keluarga dan membantu suami setiap hari. Mereka ikut secara sukarela karena peduli pada pantai mereka. “Kita mau melakukan ini bukan karena uang, tapi ini tong pe kontribusi untuk desa ini,” kata Asih, istri Kepala Desa Waringin.
Mereka mengerjakan setiap tahap penanaman. Mereka mengumpulkan buah mangrove yang jatuh di sekitar pantai, namun ada juga yang harus berperahu ke pulau terdekat, Zum-Zum dan Loleba, untuk mengambil bibit. Tetapi semua itu dilakukan dengan semangat dan ceria. Pekerjaan selanjutnya adalah menyemai dan merawat bibit, serta membersihkan hama pengganggu.
Di Desa Galo-Galo, para perempuan sudah menguji penanaman lebih dari 40 pohon soki. Mereka mengikuti anjuran ILMMA: pilih anakan yang sudah berakar banyak dan kuat, jumlah daun diatas 6 helai, dan menjaga jarak tanam dan memilih letak yang tidak menghalangi perahu. “Saya dan juga ibu-ibu yang lain bangga sekali bisa terlibat dalam program ini,” kata Sitti Hajar, anggota Sekolah Perempuan Desa Galo-Galo.
Pekerjaan ini menjawab kebutuhan nyata. Di sebagian pesisir tiga desa, tutupan mangrove berkurang dan pantai rentan abrasi. Penanaman swadaya warga belum cukup untuk memulihkannya. Mariyani, kader dari Desa Koloray, prihatin melihat pesisirnya. Menurutnya, warga sudah berkali-kali menanam, tetapi kurang berhasil. “ILMMA dan LBH PA datang ajak untuk tanam lagi, tapi dong kasi pendampingan mulai dari cari bibit sampe bagaimana merawat, mencampur media tanam,” kata Mariyani.
PERISAI berjalan melalui kelompok perempuan yang sudah didampingi LBH PA Morotai, seperti Layanan Pengaduan dan Sekolah Perempuan. Selama ini, kelompok itu membahas persoalan perempuan dan anak. Kini mereka juga mengangkat isu pesisir dan iklim. Direktur LBH PA Morotai, Niar, menjelaskan alasannya. Cuaca di Morotai kini tidak menentu.
Perempuan turut merasakan dampaknya, karena itu, LBH PA mulai memberikan penyadaran lingkungan, dan menyambut kolaborasi bersama ILMMA. “Pekerjaan mereka sekarang bertambah, karena harus mengambil air, dan jarak so jauh, karena air yang di dekat rumah so tra ada,” kata Niar.
ILMMA mengambil inspirasi dari program serupa di Tanjung Barari, Biak Numfor, Papua. Di sana, lebih dari 100 perempuan menanam 10.000 mangrove. Programnya kini masuk tahap kedua.
“Bagi kami perempuan bukan objek, tetapi mereka adalah subjek. Kami berharap tiga desa ini dapat menjadi sekolah lapang dan laboratorium bagi yang ingin belajar menjaga pesisir melalui rehabilitasi mangrove,” kata Sandra Tjan, Koordinator Maluku dan Maluku Utara, ILMMA.
Hingga kini, para perempuan telah mengumpulkan lebih dari 2.000 bibit dari target 5.000 mangrove yang akan ditanam serentak pada bulan November – Desember 2026. ILMMA menargetkan 5.000 mangrove lagi tahun depan. Secara rutin ILMMA, dan LBH PA Morotai juga mendampingi dalam perawatan dan pemantauan tanaman.(*)






















