50 Anak dari 4 Pulau di Indonesia Berselancar dan Jaga Laut di Kemah Selancar Morotai Ke-3

  • Whatsapp
Anak Anak Pulau yang siap berselancar di laut Pasifik Morotai. (Foto: Aty Juliyati).

MOROTAI- 3 November 2026 — Kemah Konservasi Selancar Morotai Ke-3 (Morotai Surf Conservation Camp) akan digelar pada 4–7 November 2026 di Desa Sopi dan Desa Sopi Majiko, Kecamatan Morotai Jaya. Sebanyak 50 anak dan remaja berusia 9–19 tahun dari Morotai, Sumba, Nias, dan Supiori (Papua) akan mengikuti kemah ini.

Kegiatan ini merupakan kerja sama Indonesia Locally Managed Marine Area (ILMMA) dan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dalam rangkaian Festival Morotai 2026, sekaligus bagian dari program Surf Ecosystem Conservation (Konservasi Ekosistem Selancar).

Ombak Morotai, yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik, dikenal hingga tingkat dunia. Ombak yang baik hanya terjaga jika terumbu karang, mangrove, lamun, dan pantainya sehat.

Karena itu, kemah ini mengajak generasi muda tidak hanya berselancar, tetapi juga tumbuh menjadi penjaga laut di desanya. Untuk melindungi ombaknya, Desa Sopi dan Sopi Majiko telah memiliki Peraturan Bersama Kepala Desa tentang perlindungan sumber daya laut, termasuk ombak dan ekosistemnya.

Upacara pembukaan akan digelar di Desa Sopi Majiko pada Rabu, 4 November 2026, diawali penyambutan dan tari-tarian, serta eksibisi selancar. Pada kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dijadwalkan mencanangkan Kemah Konservasi Selancar Morotai sebagai agenda tahunan kerja sama Pemerintah Daerah dan ILMMA.

“Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai sangat mendukung kerja ILMMA bersama masyarakat dalam konservasi sepanjang tahun. Kemah konservasi selancar ini menandai langkah berikutnya: menyiapkan generasi muda dan masyarakat untuk menjaga ombak mereka. Kami ingin kemah ini menjadi agenda tahunan yang mendukung program pemerintah daerah,” ujar Muhammad Umar Ali, Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai.

Selama kemah, peserta akan belajar lewat bermain, mengamati, dan praktik langsung di pantai dan di air: isyarat keselamatan dan sistem buddy, membaca ombak, angin, dan arus, memetakan ekosistem selancar, serta etika berselancar. Kemah juga akan melatih asisten selancar lokal agar kegiatan dapat berlanjut di desa. Kemah ditutup pada Sabtu, 7 November 2026, dengan eksibisi selancar oleh peserta dan penyerahan sertifikat.

Kemah tahun ini berbeda karena juga menjadi ajang pertukaran pembelajaran. Peserta dan champion dari Sumba, Nias, dan Supiori akan datang ke Morotai untuk berbagi pengalaman menjaga ombak di daerah masing-masing. Para pelatih selancarnya memiliki pengalaman nasional dan internasional.

“Morotai itu istimewa, tetapi perlu dijaga dengan baik. Kemah ini yang pertama di Indonesia Timur yang melibatkan masyarakat dan anak-anak, di Morotai yang termasuk daerah 3T. Dari kemah pertama hingga ketiga, animo masyarakat dan dukungan organisasi semakin besar. Kini, ILMMA bekerja bersama organisasi lokal dan internasional di Morotai melalui konsorsium Surf Ecosystem Conservation. Kami berharap anak-anak yang dilatih tidak hanya andal berselancar, tetapi juga menjaga lingkungan agar ombak ini selalu ada dan menjadi penjaga ombak di bibir Pasifik,” kata Cliff Marlessy, Direktur ILMMA.

Program Surf Ecosystem Conservation dijalankan oleh Indonesia Surf Ecosystem Conservation Consortium, yaitu Conservation International (CI), Save The Waves (STW), Konservasi Indonesia (KI), dan ILMMA, di Nias, Sumba, Morotai, dan Biak-Supiori. Kemah ini juga didukung Pemerintah Desa Sopi dan Sopi Majiko, serta Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Maluku Utara, yang berharap kemah ini dapat menghasilkan bibit-bibit muda berbakat untuk pembinaan selancar.(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *