Kunjungan Pejabat Diduga Hambat Bongkar Muat Bawang Merah di Pelabuhan Ahmad Yani

  • Whatsapp

TERNATE, HR– Aktivitas bongkar muat bahan pokok di Pelabuhan Ahmad Yani, Kota Ternate, kembali dikeluhkan para pedagang. Penundaan pembongkaran muatan bawang merah yang tertahan di pelabuhan dikhawatirkan memicu kerusakan barang hingga berpotensi mengerek harga di tingkat konsumen.

Salah satu pedagang sembako di Ternate, Rosnani mengungkapkan sebanyak 118 karung bawang merah setara 2,95 ton miliknya yang dikirim dari Makassar telah tiba sejak Rabu (26/8/2026). Namun hingga Kamis (27/8/2026), muatan tersebut tak kunjung diturunkan dari kapal.

Menurut Rosnani, pihak ekspedisi berdalih pembongkaran tertunda akibat adanya agenda kunjungan pejabat di area pelabuhan.

“Kemarin saya telepon, katanya belum dibongkar karena ada kunjungan ibu Bhayangkari. Hari ini saya hubungi lagi penanggung jawab ekspedisi, Pak Ambon, jawabannya masih sama, menunggu kunjungan selesai,” terang Rosnani.

Ia mengeluhkan kejadian ini karena bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, pengiriman 5 ton bawang merah miliknya sempat tertahan hampir sepekan di kapal hingga mengalami kerusakan fatal dan penurunan harga jual yang drastis.

Rosnani menegaskan keterlambatan murni terjadi pada proses operasional pelabuhan, bukan terkendala masalah pembayaran biaya ekspedisi. Komoditas tersebut rencananya akan langsung didistribusikan ke sejumlah pedagang di Pasar Ternate dengan volume 200 hingga 500 kilogram per pedagang.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Asosiasi Pedagang Pemasok Kota Ternate, Mas Nur, mendesak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan otoritas terkait untuk turun tangan melakukan evaluasi mendalam terhadap penanganan bongkar muat di Pelabuhan Ahmad Yani.

“Ini sudah kedua kalinya terjadi. Bawang merah adalah komoditas yang sangat rentan membusuk dan menyusut. Jika pasokan terhambat, kebutuhan konsumen terganggu dan harga pasaran bisa melonjak signifikan,” tegas Mas Nur.

Ia mengingatkan agar pihak ekspedisi maupun pengelola pelabuhan tidak mengabaikan risiko kerugian besar yang harus ditanggung pedagang serta dampak inflasi bagi masyarakat luas.(nty)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *