TERNATE,HR – Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara tengah menyiapkan langkah penanganan permanen untuk memperkuat infrastruktur Bendung Sangowo di Kabupaten Pulau Morotai. Melalui Program Instruksi Presiden (Inpres) Irigasi Tahun 2026, BWS Maluku Utara akan membangun tanggul dengan konstruksi bronjong sepanjang kurang lebih 400 meter sebagai upaya meningkatkan ketahanan bendung dari ancaman banjir.
Pembangunan tanggul ini dirancang untuk memberikan perlindungan yang lebih kokoh bagi bangunan utama bendung, sekaligus menekan risiko kerusakan akibat lonjakan debit air sungai saat musim penghujan tiba.
Kepala BWS Maluku Utara, M. Saleh Talib, menjelaskan pembangunan tanggul bronjong ini merupakan bagian dari cetak biru penanganan jangka panjang yang telah direncanakan oleh pihaknya. Konstruksi bronjong tersebut akan dipasang di area sensitif sekitar Bendung Sangowo.
“Konstruksi bronjong akan dipasang di area Bendung Sangowo sebagai sistem perlindungan permanen guna memperkuat tanggul yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat tingginya curah hujan dan luapan sungai,” ujar M. Saleh Talib, Selasa (14/7/2026).
Langkah permanen ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan bangunan secara signifikan terhadap potensi banjir di masa depan, sekaligus meminimalkan kerugian di sektor pertanian sekitar bendung akibat peningkatan debit sungai.
Sebelumnya, cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Pulau Morotai memicu lonjakan drastis pada debit aliran Sungai Sangowo. Arus yang sangat kuat tersebut mengikis dan menggerus tanggul tanah di sisi kiri bendung hingga jebol. Dampaknya, luapan air sempat meredam area perkebunan warga dan menggenangi sejumlah tanaman kelapa milik masyarakat setempat.
Merespons kejadian tersebut, BWS Maluku Utara bergerak cepat melakukan penanganan darurat di lapangan. BWS Malut bersama kontraktor pelaksana langsung melakukan penimbunan kembali pada titik tanggul tanah yang jebol. Selain itu, mereka juga memasang geobag (kantung pasir khusus) untuk menahan laju gerusan aliran sungai secara sementara.
Langkah darurat ini berfungsi sebagai proteksi awal guna menjaga stabilitas tanah di sekitar bendung, sembari menunggu dimulainya proses konstruksi tanggul bronjong permanen sepanjang 400 meter yang akan segera direalisasikan.(***)






















