TERNATE,HR– Panitia Besar (PB) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Maluku Utara membuat keputusan kontroversial dengan mengakomodir sejumlah atlet yang sebelumnya tidak terdaftar dalam entry by name untuk bertanding di cabang olahraga (Cabor) Muaythai.
Keputusan tersebut melibatkan empat atlet asal Halmahera Barat (Halbar) dan satu atlet asal Halmahera Utara (Halut). Meski sempat dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi, para atlet tersebut akhirnya diizinkan bertanding setelah melalui serangkaian dinamika di lapangan.
Sekretaris Cabor Muaythai Kota Ternate, Buchari Muhidin, menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa menerima keputusan tersebut demi menjaga kelangsungan pertandingan. Ia mengungkapkan, situasi sempat memanas saat tim dari Halmahera Barat memilih untuk mengundurkan diri dan melayangkan protes di lapangan, yang akhirnya memaksa PB KONI menghentikan sementara pertandingan untuk menggelar rapat koordinasi.
“Keputusan ini diambil setelah ada kesepakatan bersama dengan perwakilan dari Halbar, Halut, dan perwakilan Halmahera Timur (Haltim). Kami terpaksa menerima, namun dengan catatan tidak ada toleransi terkait aturan berat badan,” ujar Buchari.
Namun, di lapangan, situasi kembali memicu protes. Buchari menyoroti adanya ketidaksesuaian prosedur terkait berat badan atlet. Menurutnya, meskipun atlet Halbar yang diakomodir tersebut memiliki berat badan over (melebihi kelas yang ditentukan), panitia tetap memanggil mereka untuk bertanding.
“Kami sudah mengalah, tapi ternyata panitia tetap memanggil atlet dengan berat badan berlebih untuk bertanding, sehingga pertandingan menjadi tidak seimbang,” tambahnya.
Buchari menyampaikan kekhawatiran mendalam atas kebijakan yang diambil oleh PB KONI tersebut. Ia menilai langkah ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan kejuaraan ke depan.
“Langkah ini bisa berdampak pada cabang olahraga lain. Kami khawatir, atlet dari cabang olahraga lain yang sebelumnya sudah dinyatakan gugur secara administrasi akan menuntut untuk dipanggil kembali. Ini merusak integritas kompetisi,” tegasnya.
Sebagai langkah tindak lanjut, Buchari menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan KONI Kota Ternate untuk melayangkan keberatan resmi kepada Panitia Besar (PB) KONI Provinsi Maluku Utara atas kejadian yang dianggap mencederai sportivitas pertandingan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PB KONI Maluku Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait dasar pengambilan keputusan yang memicu polemik tersebut.(nty)






















