TERNATE,HR— Wakil Gubernur Provinsi Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara resmi membuka kegiatan Forum Pedagang Peduli Inflasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku Utara yang difasilitasi Bank Indonesia berlangsung di Aula Maitara Bank Indonesia, Kamis (29/10/2026). Forum ini digelar guna memperkuat sinergitas lintas sektor dalam menjaga stabilitas harga serta ketersediaan bahan pangan pokok, khususnya komoditas strategis Barito (bawang, cabai, dan tomat).
Kegiatan penting ini turut dihadiri oleh jajaran Deputi Bank Indonesia Fadil Muhammad, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, iserta para pelaku usaha dan pedagang pasar.
Dalam sambutannya, Wagub Sarbin Sehe menyoroti kondisi inflasi di Maluku Utara yang belakangan ini mengalami kenaikan akibat fluktuasi harga komoditas pangan. Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu keempat bulan Oktober, Maluku Utara mencatatkan peningkatan sebesar 1,02%.
Lonjakan harga yang signifikan bahkan terjadi di Kabupaten Halmahera Timur, di mana harga cabai merah dan cabai rawit sempat meroket hingga menyentuh angka Rp196.000 per kilogram. Kondisi tersebut menempatkan wilayah itu dalam peringkat tiga tertinggi secara nasional terkait kenaikan harga cabai.
“Inflasi bukan sekadar angka statistik dalam laporan ekonomi, tetapi memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat dan dapur rumah tangga. Dapur adalah kunci kebahagiaan keluarga. Ketika harga beras, rica, and ikan melonjak, tekanan terberat dirasakan oleh para ibu rumah tangga,” tegas Sarbin.
Lanjutnya, sebagai langkah responsif, pemerintah daerah merumuskan sejumlah poin penting dan instruksi konkrit untuk menstabilkan harga di pasaran, yakni pengamanan stok dan kestabilan harga, dimana Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perindag diinstruksikan untuk fokus pada dua tugas utama, untuk menjamin ketersediaan stok pangan di pasar serta menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Menueutnya, saat ini, sekitar 60% distribusi komoditas Barito di Maluku Utara masih bergantung pada pasokan luar daerah seperti Sulawesi Utara dan Jawa Timur. Pemda mengapresiasi langkah antisipatif Halmahera Timur yang mulai mendatangkan pasokan cabai langsung dari Malang, Jawa Timur. Kemudian, mengingat potensi ancaman kemarau panjang serta kebakaran lahan perkebunan seperti komoditas unggulan cengkeh dan pala, pemerintah mewaspadai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan produksi pangan lokal ke depan.
Wagub mengimbau agar masyarakat mulai memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam tanaman umur pendek, seperti rica dan bumbu dapur lainnya. Pola pikir pertanian juga didorong agar bergeser dari ketergantungan pada tanaman tahunan menuju hortikultura yang cepat dipanen.
“Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial turut diinstruksikan untuk mengantisipasi dampak psikologis atau stres ekonomi masyarakat akibat tingginya beban biaya hidup, serta mengoptimalkan pelaksanaan operasi pasar murah yang lebih rinci dan menyasar komoditas bumbu dapur,” ucapnya.
Melalui penyelenggaraan forum ini, Wagub berharap koordinasi yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan para pedagang dapat terus ditingkatkan. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok pangan secara maksimal, terutama dalam menghadapi lonjakan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.(nty)























