TERNATE,HR — Lonjakan harga cabai yang signifikan masih menjadi pemicu utama laju inflasi di wilayah Maluku Utara. Berdasarkan data terbaru, harga rata-rata cabai merah dan cabai rawit melambung tinggi hingga berkisar antara Rp150.000 hingga Rp180.000 per kilogram, bahkan menyentuh angka Rp200.000 per kilogram di Pasar Bastiong.
Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara, Fadil Muhammad, meminta adanya aksi cepat (immediate action) untuk menstabilkan harga komoditas tersebut. Menurutnya, langkah menanam baru dinilai kurang efektif mengatasi lonjakan harga saat ini karena membutuhkan waktu masa tanam sekitar tiga hingga empat bulan. Oleh karena itu, percepatan pasokan dari luar daerah menjadi solusi tercepat untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat.
Melalui forum koordinasi, Fadil mengajak para pedagang lokal untuk turut peduli terhadap kondisi inflasi di daerah. Pedagang diimbau untuk tidak hanya mengandalkan pasokan tradisional dari Manado yang harganya saat ini masih tergolong tinggi, melainkan memanfaatkan berbagai alternatif rantai pasok dari kawasan Jawa maupun Makassar.
“Tujuan forum ini adalah memberikan pemahaman dan mengajak pedagang peduli terhadap inflasi, sekaligus memberikan informasi mengenai alternatif jalur pasokan yang lebih efisien dan ekonomis,” jelas Fadil usai kegiatan Forum Peduli Inflasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku Utara, di Aula Maitara Bank Indonesia.
Sebagai bukti konkret, salah satu pedagang besar di Ternate, Nurjaya, telah mencoba skema pengiriman cabai dari Sleman melalui jalur udara dengan skema bisnis ke bisnis (business-to-business). Dengan harga modal hingga Ternate sekitar Rp115.000 per kilogram ditambah ongkos angkut lokal, cabai dapat dijual pada kisaran Rp130.000 hingga Rp135.000 per kilogram. Harga ini dinilai masih memberikan margin keuntungan yang wajar bagi pedagang sekaligus jauh lebih terjangkau bagi konsumen.
Selain jalur Sleman, skema pasokan dari Pemerintah Daerah Halmahera Utara (Halut) yang mendatangkan tujuh ton cabai dari Malang menggunakan armada pesawat Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) juga berhasil menekan harga modal hingga Rp100.000 per kilogram di tingkat daerah.
Terkait skema penyaluran, Fadil menilai distribusi di Kota Ternate relatif lebih mudah dan cepat. Pasokan yang tiba di Bandara Sultan Babullah Ternate dapat langsung disalurkan ke pasar-pasar utama dalam waktu sekitar 20 menit dengan estimasi ongkos angkut yang terjangkau. Sementara itu, pengiriman menuju wilayah Halmahera Tengah membutuhkan waktu dan biaya tambahan karena harus melewati jalur darat dan penyeberangan kapal feri.
Dengan terbukanya berbagai alternatif rantai pasok ini, diharapkan para pedagang dapat mengkalkulasi margin usaha yang lebih wajar sehingga harga cabai di pasaran kembali stabil dan tidak memberatkan masyarakat.(nty)























